Dinasti Fathimiyah di Mesir
I.
PENDAHULUAN
Kemunculan
Dinasti Fathimiyah yang merupakan Dinasti Sy’iah dalam Islam[1]
dan perannya sebagai tandingan bagi penguasa dunia muslim saat itu yakni
Dinasti Abbasiyah, merupakan fenomena yang selayaknya diketahui oleh umat
Islam. Demikian juga kejayaan yang telah diukirnya, baik dalam hal kehidupan
masyarakat dan sistem administrasi, perkembangan pengetahuan, seni, dan
arsitektur, sampai pada kemunduran dan sebab-sebabnya.
Di
antara kejayaan Islam pada masa Dinasti Fathimiyah adalah kemakmuran di
bidang ekonomi dan berkembangnya Masjid Agung al-Azhar menjadi lembaga
pendidikan universitas di Kairo. Pembangunan pusat pembelajaran Dār al-‘Ilm
yang melakukan pengkajian ilmu-ilmu keislaman, astronomi, dan kedokteran[2], juga merupakan bagian penting dari
kejayaannya. Buku tentang optik dan penyembuhan mata, pintu-pintu gerbang yang
megah, lukisan, ukiran, produk tekstil dan keramik, serta seni penjilidan yang
bernilai tinggi merupakan karya penting lain yang dihasilkan pada masa dinasti
ini. Bahkan kristal peninggalan dinasti ini yang ditemukan dalam kapal karam di
Pantai Utara Cirebon, telah menghebohkan publik Indonesia bukan hanya karena
tingginya nilai seni yang dimilikinya, melainkan juga karena konsumen produk
ini telah merambah ke wilayah yang sangat jauh dari asalnya[3].
Hal ini menunjukkan eksistensi Dinasti Fathimiyah yang telah menjalin hubungan
dagang dengan dunia luar.
Sisi
menarik yang perlu diungkapkan dalam bidang politik dan kenegaraan pada masa
Dinasti Fathimiyah adalah adanya fenomena upaya penyatuan antara agama dan
negara. Hal ini terlihat dari sejarah kemunculannya yang menganggap pemimpinnya
sebagai Imam Mahdi. Golongan Fathimiyah tidak hanya menolak kekuasaan Abbasiyah
tetapi menyatakan bahwa merekalah yang sebenarnya paling berhak memerintah
seluruh kerajaan Islam.[4] Namun demikian, dalam pelaksanaannya,
model kepemimpinan imam-imam Dinasti Fathimiyah cenderung menunjukkan sikap
materialistik berupa kemakmuran di hadapan publik.[5]
Dinasti Fathimiyah adalah merupakan
salah satu dinasti Islam yang pernah ada dan juga memiliki andil dalam
memperkaya khazanah sejarah peradaban Islam. Sama halnya pengutusan Muhammad
SAW sebagai Rasulullah telah menoreh sejarah Islam, yang pada awalnya hanya
merupakan bangsa jahiliyah yang tidak mengenal kasih sayang dan saling
menghormati.
Jikalau ditarik garis horizontal sejarah Islam, maka akan diketahuilah bahwa dari sekian banyak sejarah peradaban Islam yang termaktub dalam buku-buku sejarah peradaban banyak terjadi pertumpahan darah hanya demi menegak dan mempertahankan kepemimpinan.
Maka adalah sangat janggal jika uraian makalah ini menganalisis persoalan sejarah dalam korelasi hubungannya terhadap konsepsi teologi, karena substansi pembahasan makalah ini, bukan untuk melihat sejarah masa lalu umat Islam yang mesti diapresiasikan oleh umat masa kini dalam rangka menakar dogma teologis ke arah yang lebih luas dan universal. Silsilah Kekhalifaan Fatimiyah :
1. Al-Mahdi (909-934) 9 . Al-Musta’li ( 1094-1101)
2. Al-Qa’im (934-946) 10. Al- Amir (1101-1130)
3. Al-Manshur (946-952) 11. Al-Hafizth (1130-1149)
4. Al-Mu’izz (952-975) 12. Al-Zafir (1149-1154)
5. Al-Aziz (975-996) 13. Al-Fa’iz (1154-1160)
6. Al-Hakim (996-1021) 14. Al-Adhid (1160-1171)
7. Al-Zhahir (1021-1035)
8. Al-Mustanshir (1035-1094)
Jikalau ditarik garis horizontal sejarah Islam, maka akan diketahuilah bahwa dari sekian banyak sejarah peradaban Islam yang termaktub dalam buku-buku sejarah peradaban banyak terjadi pertumpahan darah hanya demi menegak dan mempertahankan kepemimpinan.
Maka adalah sangat janggal jika uraian makalah ini menganalisis persoalan sejarah dalam korelasi hubungannya terhadap konsepsi teologi, karena substansi pembahasan makalah ini, bukan untuk melihat sejarah masa lalu umat Islam yang mesti diapresiasikan oleh umat masa kini dalam rangka menakar dogma teologis ke arah yang lebih luas dan universal. Silsilah Kekhalifaan Fatimiyah :
1. Al-Mahdi (909-934) 9 . Al-Musta’li ( 1094-1101)
2. Al-Qa’im (934-946) 10. Al- Amir (1101-1130)
3. Al-Manshur (946-952) 11. Al-Hafizth (1130-1149)
4. Al-Mu’izz (952-975) 12. Al-Zafir (1149-1154)
5. Al-Aziz (975-996) 13. Al-Fa’iz (1154-1160)
6. Al-Hakim (996-1021) 14. Al-Adhid (1160-1171)
7. Al-Zhahir (1021-1035)
8. Al-Mustanshir (1035-1094)
Mengingat
hal-hal yang disinggung di atas, Dinasti Fathimiyah yang merupakan bagian dari
sejarah peradaban Islam, perlu dipelajari oleh umat Islam untuk kemajuan masa
kini dan mendatang. Melalui pengkajian sederhana
terhadap beberapa literatur, penulis berusaha untuk menyajikan kronologi
sejarah peradaban Islam pada Dinasti Fathimiyah dari awal terbentuknya pada
tahun 909 Masehi, masa kejayaannya, sampai masa berakhirnya yakni tahun 1171
Masehi.[6]
II.
DINASTI
FATHIMIYAH
A.
KELAHIRAN
DINASTI FATHIMIYAH
a)
Gerakan
Syi’ah Isma’iliyah
Kelahiran
dinasti ini dimulai dengan adanya gerakan dari cabang kaum Syi’ah Imamiyah –
yaitu Syi’ah Isma’iliyah – yang bereaksi terhadap khalifah-khalifah Abbasiyah
yang mengadakan penyelidikan kepada kaum Syi’ah Isma’iliyah. Penyelidikan itu
mengharuskan golongan yang setia kepada Isma’il bin Ja’far harus meninggalkan
kota kecil di wilayah Hamah daerah Syria menuju Afrika Utara.
Kaum
Syi’ah Isma’iliyah itu sendiri muncul karena berselisih paham dengan Syi’ah
Imamiyah tentang imam yang ketujuh. Menurut kaum Imamiyah, imam yang ketujuh
adalah Putra Ja’far yang bernama Musa al-Kazhim, sedangkan menurut Isma’iliyah
imam yang ketujuh adalah Putra Ja’far yang bernama Isma’il. Sehingga meskipun
Isma’il sudah meninggal, kaum Isma’iliyah tidak mau mengakui penobatan Musa
al-Kazhim sebagai imam. Menurut mereka hak atas Isma’il sebagai imam tidak
dapat dipindahkan kepada yang lain walaupun sudah meninggal.[7]
Pemimpin
gerakan Syi’ah Isma’iliyah adalah Abu Abdullah al-Husain. Berkat propagandanya
yang penuh semangat, Abu Abdullah al-Husain berhasil menarik suku Barbar
yang terkenal keras, khususnya dari kalangan suku Khithamah, menjadi pengikut
setia gerakan ini.
b)
Penobatan
Ubaidillah al-Mahdi (909-934 M)
Setelah
memperoleh banyak dukungan dan berhasil menegakkan pengaruhnya di Afrika Utara,
Abu Abdullah al-Husain menobatkan Sa’id ibn Husain al-Salamiyah sebagai
penggantinya. Selanjutnya Sa’id berhasil merebut kekuatan dan berhasil mengusir
penguasa dinasti Aghlabiyah yang terakhir yaitu Ziyadatullah III dari Tunisia
disusul dengan pendudukannya pada tahun 909 M. Inilah awal berdirinya Dinasti
Fatimiyah di Afrika Utara yang dipimpin oleh Sa’id Husain al-Salamiyah yang
bergelar “Ubaidillah al-Mahdi”.[8]
c)
Al-Qaim (934-949 M)
Al-Mahdi digatikan oleh putranya yang tertua yang berama
Abdul Qasim dan bergelar Al-Qai’m. Ia meeruskan gerakan ekspansi yang telah
dimulai oleh ayahnya. Pada tahuin 934 M, ia mengerahkan pasukan dalam jumlah
besar ke daerah selatan Prancis. Pasukan ini berhasil menduduki Genoa dan
wilayah sepanjang pantai Calabria. Mereka melancarkan pembunuhan, penyiksaan,
pembakaran kapal-kapal, dan merampas budak-budak. Pada saat yang sam ia juga
mengerahkan pasukannya ke Mesir, pasukan ini berhasil dikalahkan oleh Dinasti
Ihsidiyah sehingga mereka terusir dari Alexandria. Di tengah kesuksesannya
dalam ekspasi, Al-Qa’im mendapat perlawanan dari kalangan Khawarij yang
melancarkan pemberontakan di bawah pimpinan Abu yazid Makad.
Berkali-kaligerakan pemberontaka ini mampu menahanserangan pasukan Fathimiyah
dalam peperangan yang berlangsung hampir tujuh tahun.[9]
d)
Mu’iz Lidinillah (965-975 M)
Penobata Mu’iz sebagai khalifah keempat menandai era baru
Dinasti Fathimiyah. Banyak keberhasilan yang dicapainya. Pertama kali ia
menetapkan untuk mengadakan peninjauan ke seluruh penjuru wilayah kekuasaan-nya
untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya. Selanjutnya, u’iz menetapkan
langkah-langkah yang harus di tempuh demi terciptanya keadilan dan kemakmuran.
Ia menghadapi geraka pe,berontakan secara tuntashigga mereka bersedia tunduk
kedalam kekuasaan Mu’iz. Mu’iz menempuh kebijakan damai terhadap para pimpinan
dan gubernur dengan menjanjika penghargaan kepada mereka yang menunjukkan
loyalitasnya. Oleh karena itu, dalam tempo singkat, masyarakat seluruh negeri mengenyam
kehidupa yang damai dan makmur.[10]
e)
Al-Aziz (975-996 M)
Al-Aziz menggantikan kedudukan ayahnya, Mu’iz. Ia
termasuk khalifah Fathimiyah yang paling bijaksana dan pemurah. Kedamaian yang
berlangsung pada masanya ini ditandai dengan kesejahteraan seluruh warga, baik
muslim maupun nomuslim. Kemajuan imperium fathimiyah mencapai puncakya pada
masa pemerintahan ini. Luas kekuasaan imoerium membentang dari wilayah Eufrat
sampai dengan Atlantik. Imperium ini mengungguli kebesaran Abbasiyah di bagdad
yang sedang dalam kemundurannya dibawah kekuasaan Buwaihiyah. Antara Khalifah
Al-Aziz Ad-Daulat, terjalin hubugan persahabtan dengan saling megirim duta
masing-masing.[11]
f)
Al-Hakim (996-1021 M)
Pemerintahan
la-hakim ditandai dengan sejumlaj kekejaman. Ia menghukum mati pejabat-pejabat
yang cakap tanpa alasan yang jelas. Dalam sepuluh tahun masa pemerintahannya,
kaum Yahudi dan Nasrani merasa kehilangan hak-haknya sebagai warga negara
sehigga mereka pun mengadakan perlawanan. Al-Hakim segera mengeluarkan maklumat
umum untuk menghancurkan seluruh gereja Kristen di Mesir dan menyita tanah dan
harta kekayaan mereka. Ibnu Abdun, seorang menteri sekretaria negara yang
beragama Kristen dipaksa menandatangani maklumat tersebut. Kalangan Kristen
dipaksa memilih tiga alternatif, yaitu menjadi muslim, atau meninggalkan tanah
air, atau berkalung dengan salib raksasa sebagai simbol kehancuran mereka.[12]
g)
Az-Zahir (1021-1036 M)
Peristiwa yang paling terkenang pada masa kekhalifaan ini
adalah penyelesaian persengketaan keagamaan pada tahun 1025 di mana tokoh-tokoh
mazhab Malikiyah diusir dari Mesir. Sekalipun demikian, secara umum Az-Azhir
cukup toleran terhadap kelompok sunni. Ia bersedia membuat perjanjian dengan
kaisar Romawi, yakni Kaisar Costantine VII. Sang kaisar di izinkan membangun
kembali gereja Yerusalem yang roboh akibat kerusuhan kerusuhan yang terjadi
disana. Ia meninggal pada 1036 M, setelah memerintah selama 16 tahun.[13]
h)
Al-Mustansir (1036-1095 M)
Az-Zahir digantikan oleh anaknya yang bernama Abu Tamim
Ma’ad yang bergelar Al-mustansir, pemerintahannya selama 61 tahun merupakan
masa pemerintahan terpanjang dalam sejarah islam.[14]
Masa awal pemerintahannya berada sepenuhnya ditangan ibunya, lantaran ketika
dinobatkan sebagai khalifah ia baru berusia tujuh tahun. Pada masa ini kekuasaan
Fathimiyah mengalami kemunduran secara drastis. Beberapa kali perebutan jabatan
perdana menteri turut memperlemah ketahanan imperium ini, disamping terjadinya
sejumlah pemberontakan dan peperangan selama pemerintahan ini.
i)
Al-Musta’li (1095-1101 M)
Putra termuda Al-Mustansir yang bergelar Al-Musta’li
menduduki tahta kekhilafaan sepeninggal sang ayah Al-Mustansir. Nizar, putra
Al-Mustansir yang tertua, menentangpenobatan adiknya. Ia segera bangkit di
Alexanderia setelah memecat gubernur wilayah ini, namun satu tahun kemudian ia
dapat dipaksa menyerah.[15]
B.
IDEOLOGI DINASTI FATHIMIYAH
Nama
Fathimiyah dinisbatkan kepada Fatimah al-Zahra yaitu putri Nabi Muhammad Saw
yang juga merupakan istri Ali Ibn Abi Thalib ra. Ubaidaillah al-Mahdi mengaku
sebagai keturunan Ali ra dan Fatimah RA melalui garis Isma’il, putra Ja’far
al-Shadiq.[16]
Penisbatan ini memperkuat klaim dan legitimasi dinasti ini yang menganggap
bahwa merekalah yang sebenarnya paling berhak mengambil kendali dan memerintah
seluruh kerajaan Islam. Di samping itu berdirinya Dinasti Fathimiyah
jelas-jelas merupakan tandingan bagi Dinasti Abbasiyah yang sedang berkuasa.
Setelah
resmi mengukuhkan diri sebagai dinasti baru, Fathimiyah memulai pekerjaannya
dengan mengambil kepercayaan umat Islam bahwa mereka adalah benar-benar
keturunan Fathimah putri Rasul dan istri Ali bin Abi Thalib. Mereka mengklaim
bahwa mereka memiliki hak dari Tuhan untuk berkuasa.
Dinasti
Fathimiyah mengklaim sebagai pemimpin Islam yang sebenarnya. Fathimiyah
mewakili simbolisme otoritas politik Abbasiyah, Bizantium, filsafat, dan
Isma’iliyah. Mereka menegaskan bahwa mereka adalah imam-imam yang sebenarnya;
dengan demikian mereka memutuskan hubungan dengan tradisi Syi’ah yang tengah
berkembang sebelumnya bahwa Imam Syi’ah adalah tersembunyi.[17]
Pencitraan
diri sebagai kekhalifahan dan institusi imamah yang sah merupakan tanda untuk
menegaskan keberlanjutan otoritas politik dan spiritual yang dimiliki nabi
karena Syi’ah Isma’iliyah sebagai pendiri Dinasti Fathimiyah menunjukkan
keyakinan bahwa kepala negara yang sah adalah wakil Tuhan di muka bumi.
C.
PERLUASAN WILAYAH KEKUASAAN
Ubaidillah
menegakkan pemerintahannya di istana Aghlabiyah, yaitu di Raqqadah yang
terletak di pinggiran kota Kairawan. Ia membuktikan dirinya sebagai penguasa
yang paling mampu dan berbakat. Ia memperluas kekuasaannya sampai hampir
meliputi wilayah Afrika, dari Maroko sampai perbatasan-perbatasan Mesir.[18]
Setelah
wafat tahun 934 M, Ubaidillah al-Mahdi digantikan oleh putranya Abu al-Qasim
dengan gelar al-Qa’im selama 15 tahun. Pada tahun 934 atau 935 Al-Qa’im
mengirim armadanya untuk menyerbu Pantai Utara Prancis, dan berhasil menguasai
Genoa dan sepanjang pesisir Calabria.
Al-Qa’im
meninggal pada tahun 949 M ketika berusaha menaklukkan Mesir. Pengganti beliau
adalah putranya bernama al-Mansyur. Al-Manshur berhasil mengalahkan pasukan Abu
Yazid Makad di Mesir.[19] Setelah meninggal beliau digantikan
oleh Abu Tamim Ma’ad yang bergelar al-Mu’iz.
D.
QAHIRAH MENJADI IBU KOTA
Pada
masa pemerintahan al-Mu’iz, Dinasti Fathimiyah berhasil menaklukkan Maroko,
Sisilia, Mesir, Palestina, Suriah, dan Hijaz.
Periode
Dinasti Fathimiyah di Mesir dimulai ketika Jauhar, komandan pasukan al-Mu’iz
(Imam Syi’ah Dinasti Fathimiyah untuk periode 953-975), kepala perang yang
gagah berani asal Sicilia, menaklukkan negeri itu dan memasuki ibu kotanya
Fusthat pada tahun 969. Ia berhasil merampasnya dari keturunan Ikhsyid.
Keturunan Ikhsyid tidak dapat mempertahankan kekuatannya, sehingga terpaksa
melarikan diri.[20] Setelah menduduki kota Fusthat, dia
membangun kota baru dengan nama ‘al-qahirah’ yang berarti ‘gagah perkasa’
sebagai lambang kemenangannya.[21]
Di
Mesir, yang telah direbutnya dalam waktu singkat, Jauhar memiliki tugas utama,
yaitu:
- a. Mendirikan ibu kota
baru yaitu Kairo
- b. Membina suatu
universitas Islam yaitu Al-Azhar
- c. Menyebarluaskan
ideologi Fathimiyah yaitu Syi’ah ke Palestina, Syria, dan Hijaz.[22]
Setelah
empat tahun dikuasai, barulah al-Mu’iz datang ke Mesir, tepatnya tahun 973 M
dengan terlebih dahulu memasuki kota Iskandariyah. Di Iskandariyah beliau
disambut dengan upacara besar oleh penduduk, selanjutnya beliau memasuki
Qahirah. Tiga tahun kemudian al-Mu’iz meninggal dan digantikan oleh putranya
al-Aziz.
E.
MASA
KEJAYAAN DINASTI FATHIMIYAH
a) Keadaan Politik
Pada
masa Dinasti Fathimiyah, terutama pada waktu kekuasaan Abu Manshur Nizar
al-Aziz, kehidupan masyarakat selalu diliputi oleh kedamaian. Hal ini merupakan
imbas dari keadaan pemerintahan yang damai. Al-Aziz adalah khalifah Fathimiyah
yang kelima sejak berdirinya dinasti ini di Tunisia, dan khalifah pertama
yang memulai pemerintahan di Mesir.
Simbolisme
istana yang penting diekspresikan dalam upacara, kesenian arsitektur, dan agama
Islam. Di dalam istana terdapat sebuah ruangan besar untuk mengajarkan
keyakinan Isma’iliyah. Para hakim, misionari, qari al-Quran, dan imam shalat
secara reguler hadir dalam berbagai upacara di dalam istana.[23]
Periode
ini menandai munculnya era baru dalam sejarah bangsa Mesir, yang untuk pertama
kalinya sepanjang sejarah, menjadi penguasa absolut dengan kekuatan besar dan
penuh yang didasarkan atas prinsip keagamaan. Usaha untuk menegakkan penyatuan
kepemimpinan agama dan politik jelas terlihat. Prinsip kepemimpinan yang
mengharuskan seorang imam harus menjadi sosok yang adil, yang bisa menjauhkan
umat dari siksaan, suara kebenaran, yang bersinar seperti matahari dan
bercahaya seperti bintang, dan menjadi pilar agama, rizki, dan kehidupan
manusia, telah berhasil menjulangkan popularitas sang khalifah. Nama sang
khalifah senantiasa disebut-sebut dalam khutbah-khutbah Jumat di sepanjang
wilayah kekuasaannya yang membentang dari Atlantik hingga Laut Merah, di Yaman,
Mekah, Damaskus, dan bahkan di Mosul.[24]
Di
bawah kekuasaan al-Aziz, Fathimiyah berhasil mendapatkan tempat tertinggi
sebagai negara Islam terbesar di kawasan Mediterania Timur. Ia telah berhasil
menjadikan negaranya sebagai lawan tangguh bagi kekhalifahan Abbasiyah di
Baghdad.
Strategi promosi Fathimiyah yang gencar dilakukan untuk
mengagungkan agama diwujudkan dengan memasyarakatkan pemuliaan terhadap keluarga
Ali. Pemuliaan terhadap imam yang masih hidup disejajarkan dengan pemuliaan
terhadap kalangan syuhada dari keluarga nabi. Pemerintah membangun
sejumlah bangunan makam keluarga Ali untuk meningkatkan kegiatan perziarahan.
Selain
berhasil mewujudkan kemakmuran, strategi lain yang dijalankannya adalah
memberikan toleransi yang tak terbatas kepada umat Kristen. Keadaan ini sama
sekali tidak pernah dirasakan oleh masyarakat pada periode-periode sebelumnya.
b) Sistem Administrasi Pemerintahan
Sistem
administrasi pemerintahan Dinasti Fathimiyah tidak begitu berbeda dengan sistem
administrasi Abbasiyah, atau lebih cenderung pada sistem administrasi Persia
kuno.
Administrasi
internal kerajaan dibentuk oleh Ya’kub ibn Killis yang wafat tahun 991 M,
seorang wazir atau menteri pada kekhalifahan al-Mu’iz dan al-Aziz. Ya’kub
adalah seorang Yahudi yang masuk Islam. Berkat kecakapannya dalam bidang
administrasi, ia berhasil meletakkan dasar-dasar ekonomi sehingga Dinasti
Fathimiyah mencapai kemakmuran pada awal pemerintahannya.
Pengelolaan
negara dilakukan dengan mengangkat para menteri. Fathimiyah membagi kementrian
menjadi dua kelompok yaitu: pertama, kelompok militer yang terdiri atas tiga
jabatan pokok: (1) Para amir, yang terdiri atas para perwira tertinggi
dan para pengawal khalifah; (2) Para perwira istana yang terdiri atas para ahli
(ustadz) dan para kasim; (3) Komando-komando resimen yang masing-masing
menyandang nama berbeda seperti Hafizhiyah, Jususyiyah, Sudaniyah, atau yang
disebut dengan nama khalifah, wazir, atau suku. Para wazir atau menteri
juga terdiri atas beberapa kelas, yang tertinggi adalah menteri keamanan yang
mengatur tentara dan urusan perang, kemudian menteri dalam negeri, menteri
urusan rumah tangga yang menyambut tamu-tamu kehormatan utusan luar negeri, dan
yang terakhir adalh menteri sekertaris negara yang terdiri atas para qadhi
yang juga menjadi kepala percetakan uang; menteri pengawas pasar yang mengawasi
ukuran dan timbangan dalam Tingkatan pegawai yang paling rendah adalah
para pegawai di departemen sekretariat negara yang terdiri atas para pegawai
sipil, termasuk para pedagang dan sekretaris dari berbagai departemen.[25] Selain pejabat pusat, di setiap
daerah terdapat pejabat setingkat gubernur yang diangkat oleh khalifah untuk
mengelola daerahnya masing-masing. Administrasi pemerintahan dikelola oleh
pejabat setempat.[26]
c) Perkembangan Ekonomi
Dalam
membahas masalah perkembangan ekonomi akan dibicarakan mengenai kehidupan
masyarakat dan keadaan negara dilihat dari kemajuan ekonomi dan kemakmurannya.
Seperti
yang telah disinggung di awal, masyarakat pada masa pemerintahan Dinasti
Fathimiyah hidup dengan damai. Kekuasaan rezim Syi’ah tetap memberi toleransi
kepada masyarakat, baik kepada golongan Koptik maupun kepada masyarakat umum
yang bermazhhab Sunni.
Sebenarnya
masa keemasan dalam sejarah dinasti ini di Mesir dimulai pada periode al-Mu’iz
dan mencapai puncaknya pada periode al-Aziz, tetapi pada periode sesudahnya
yaitu masa al-Munthashir masih menunjukkan bahwa Mesir merupakan negara Islam
paling maju.
Khalifah
al-Aziz hidup di kota Kairo yang mewah dan gemerlap, dikelililngi beberapa
masjid, istana, jembatan, dan kanal-kanal yang baru dibangun. Pada prosesi
ibadah, misalnya idul fitri, dia biasa berkeliling dengan pasukannya
dengan memakai pakaian berornamen brokat dan dilengkapi dengan pedang dan sabuk
emas. Tenda yang dipakai oleh khalifah dihiasi mutiara.
Kegemilangan
Mesir pada masa al-Muntashir ini dapat tergambar sebagaimana dideskripsikan
oleh seorang Persia yang mengunjungi negara ini tahun 1046-1049, beberapa saat
sebelum terjadi kehancuran ekonomi dan politik. Ia mengemukakan bahwa istana
khalifah mempekerjakan 30.000 orang, 12.000 orang di antaranya adalah pelayan
dan 1.000 orang pengurus kuda. Khalifah muda yang dilihatnya pada sebuah perayaan
menunggangi kuda, dinaungi oleh pelayan dengan payung yang dihiasi batu-batu
mulia. Di tepi Sungai Nil terdapat tujuh buah perahu berukuran 150 kubik dengan
60 tiang pancang sedang berlabuh. Khalifah memiliki 20.000 rumah di ibu kota,
hampir semuanya dibangun dengan batu bata, dengan ketinggian hingga lima atau
enam lantai. Ia juga memiliki ribuan toko yang masing-masing bisa menghasilkan
dua hingga sepuluh dinar perbulan. Jalan-jalan utama diberi atap dan diterangi
lampu. Para penjual toko menjual dengan harga yang telah ditetapkan. Jika ada
seorang pedagang yang curang, ia akan dipertontonkan di sepanjang jalan kota
sambil membunyikan lonceng dan mengakui kesalahannya. Bahkan begitu amannya
kota, toko perhiasan atau tempat penukaran uang tidak pernah dikunci saat
ditinggal oleh pemiliknya. Kota Fusthat memiliki tujuh masjid besar; Kairo
memiliki delapan buah.[27] Seluruh kota merasakan ketenangan
dan kemakmuran dengan ungkapannya yang antusias, “Bahkan aku tidak bisa
memperkirakan kekayaan kota ini, dan tidak pernah sekali pun aku melihat satu
tempat yang lebih makmur dari kota ini.”[28]
Khalifah
al-Muntashir hidup dalam kemewahan dan kesenangan. Dia mewarisi harta
yang berlimpah dari para pendahulunya. Kekayaan khalifah terbukti dengan
ditemukannya warisan harta sangat berharga yang tersebar di antara
tentara-tentara Turki berupa vas-vas kristal, piring-piring berlapis emas,
tempat tinta yang terbuat dari gading dan kayu eboni, gelas-gelas berbahan
gading, cermin-cermin dari baja, payung dengan gagang terbuat dari emas dan
perak, papan catur dengan bidak terbuat dari emas dan perak, belati berhiaskan
mutiara, dan pedang-pedang berukir indah.[29]
d) Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Dinasti
Fathimiyah memiliki perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Khalifah al-Aziz
sendiri adalah seorang penyair dan sangat menyenangi pendidikan. Pada masanya
dikembangkanlah Masjid Agung al-Azhar menjadi universitas sebagai salah satu
lembaga pendidikan Islam tertua.
Khalifah
al-Hakim melakukan pembangunan pusat pembelajaran Dār al-Hikmah
(rumah kebijaksanaan) dan Dār al-‘Ilm (rumah ilmu) pada tahun 1005 yang
melakukan pengkajian ilmu-ilmu keislaman, astronomi, dan kedokteran. Dia
menyediakan dana yang besar untuk mengembangkan institusi ini, di antaranya
digunakan untuk menyalin berbagai naskah, memperbaiki buku, dan pemeliharaan
umum lainnya. Bangunan tersebut ditempatkan berdekatan dengan istana kerajaan.
Di dalam bangunan itu terdapat sebuah perpustakaan dan ruang-ruang pertemuan.
Al-Hakim
juga membangun sebuah observatorium karena ketertarikannya pada
perhitungan-perhitungan astrologi. Alat untuk mengukur tanda-tanda zodiak yang
terbuat dari tembaga didirikan oleh al-Hakim di atas dua menara.
Beberapa
tokoh ilmuwan yang terkenal pada masa ini di antaranya ‘Ali ibn Yunus.
Dia adalah seorang astronom paling hebat yang menciptakan tabel astronomi. Juga
ada Abu ‘Ali al-Hasan ibn al-Haitsam (bahasa Latin, Alhazen) yang
merupakan peletak dasar ilmu fisika dan optik. Ia menulis tidak kurang dari
seratus karya yang meliputi bidang matematika, astronomi, filsafat, dan
kedokteran. Karya terbesarnya adalah Kitāb al-Manāzhir mengenai ilmu optik.
Kitab ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan ilmu optik dan menjadi
rujukan utama hampir semua penulis tentang optik pada Abad Pertengahan. Tokoh
lainnya adalah ‘Ammar ibn ‘Ali al-Maushili yang menghasilkan karya al-Muntakhab
fi ‘Ilaj al-‘Ain (Karya Pilihan tentang Penyembuhan Mata) dan Ibn ‘Isa yang
menghasilkan karya Tadzkirah.[30]
Dalam karya ‘Ammar ini dijelaskan dasar-dasar operasi katarak yang merupakan
penemuannya yang berharga dalam bidang kesehatan.
Dalam
perkembangan berikutnya, pada masa al-Muntashir, terjadilah kemunduran dalam
bidang ilmu pengetahuan dengan banyaknya buku-buku yang hilang dari
perpustakaan kerajaan yang telah didirikan sejak masa al-‘Aziz yang ketika itu
memiliki kurang lebih 200.000 buku dan 2.400 Alquran.[31]
Berkurangnya koleksi perpustakaan ini sebagai akibat peristiwa perebutan
rampasan perang pada tahun 1068. Naskah-naskah berharga itu digunakan sebagai
bahan bakar untuk membakar rumah-rumah dan kantor-kantor orang Turki.
e) Perkembangan Seni dan Arsitektur
Seni
dan arsitektur pada masa Fathimiyah menghasilkan karya yang bernilai sangat
tinggi berupa berbagai kerajinan, baik di bidang tekstil, keramik, benda seni
dari kayu, benda logam, dan batu kristal. Pada produk tekstil kita bisa menemukan
motif-motif hewan dengan pose konvensional. Beberapa contohnya ditemukan di
Barat yang dibawa ke sana pada masa Perang Salib.
Seni
keramik masa ini mengikuti pola-pola Iran. Beberapa contoh produk keramiknya
merupakan bukti kemunculan pertama keramik ala Cina di wilayah Arab Timur.
Produk keramik yang dibuat oleh orang-orang Mesir sangat bagus dan menakjubkan.
Benda
seni dari kayu adalah berupa papan-papan kayu berukir yang digambari lukisan
beberapa makhluk hidup seperti rusa yang diserang oleh monster, kelinci yang
diterkam oleh elang, dan beberapa pasang burung yang saling berhadapan.
Seperti
juga pada produk kayu, koleksi perunggu memperlihatkan hal yang sama.
Kebanyakan produknya berupa cermin atau pedupaan. Koleksi perunggu yang paling
terkenal adalah patung griffin dengan tinggi 40 inci, yang sekarang berada di
Pisa.
Benda
kristal dinasti Fathimiyah menurut pakar sejarah seni di situs simerg.org
merupakan salah satu mahakarya peradaban Islam paling indah. Ornamen yang
ditampakkan pada batu kristal tersebut menunjukkan karya seni dengan citarasa
yang tinggi. Salah satu ciri khasnya adalah bentuk-bentuk batu kristal yang
umumnya mengambil model ikan sebagai simbol kehidupan. Banyak juga yang berisi
tulisan dari Imam-imam Syi’ah Isma’iliyah. Salah satu peninggalan yang terkenal
terdapat di Basilica Venesa yang berisi tulisan al-Aziz yang hidup sekitar
tahun 975-996 Masehi. Batu kristal lainnya berisi tulisan Imam al-Hakim
yang berada di Chatedral of Fermo, Italia.[32]
Berbagai
benda kuno berupa keramik dan kristal peninggalan Dinasti Fathimiyah pada tahun
2004 ditemukan di dalam kapal karam berusia 1000 tahun di Pantai Utara Cirebon.
Sekitar 271.381 benda kuno yang menghebohkan publik Indonesia tersebut dilelang
oleh Kementrian Kelautan RI pada 5 Mei 2010 yang kemungkinan nilai jualnya
mencapai 750 milyar sampai trilyunan rupiah.
Seni
arsitektur publik Fathimiyah merupakan bentuk pengembangan dari aspek-aspek
seremonial istana kerajaan. Ibu kota Fathimiyah, al-Qahirah atau Cairo yang
dibangun pada tahun 969, merupakan sebuah kota kerajaan yang dirancang sebagai
wujud bagi kebesaran kerajaan.[33]
Masjid Agung al-Azhar dan al-Hakim dibangun dengan sejumlah menara dan
kubah yang melambangkan sifat ketinggian para imam dan mengingatkan pada Kota
Suci Makkah dan Madinah. Bagian tengah al-Azhar dibangun dengan batu bata yang
memiliki sudut mihrab. Masjid al-Hakim memiliki kopula dari tembok yang
menyokong sebuah tambur besar berbentuk segi delapan di atas ruangan shalati.
Di Masjid al-Aqmar ditemukan ciri khas arsitektur Islam yaitu ceruk stalaktit.
Tiang masjid ini menampilkan disain kaligrafi bergaya Kufi yang kubus dan
tegas. Ciri khas lain yang menjadi tradisi pada masa ini adalah bangunan
makam para pendiri masjid yang dihubungkan dengan masjid. Selain bentuk bangunan,
kemegahan gedung-gedung periode Fathimiyah dilengkapi juga dengan pintu-pintu
gerbang berukuran sangat besar yang dibangun oleh arsitek-arsitek dengan
rancangan ala Bizantium.
F.
KEMUNDURAN
DINASTI FATHIMIYAH
a) Awal Kemunduran
Kemunduran
yang dialami Dinasti Fathimiyah sudah mulai ada pada masa Abu ‘Ali Manshur al-Hakim.
Al-Hakim adalah pengganti al-Aziz, ia baru berusia 11 tahun ketika naik
tahta. Karena masih terlalu muda ketika diangkat menjadi khalifah, kekuasaan
sesungguhnya berada di tangan para wazir. Para wazir ini akhirnya sering
mendapat julukan kebangsawanan “al-malik”.
Masa
pemerintahannya, ditandai dengan sifat aneh berupa tindakan-tindakan kejam yang
menakutkan. Ia membunuh beberapa orang wazir, dan menetapkan aturan-aturan
ketat kepada kalangan nonmuslim. Ia membuat kebijakan menghancurkan beberapa
gereja dan Kuburan Suci umat Kristen, yang kelak akhirnya menjadi salah satu
peristiwa yang melatarbelakangi pecahnya Perang Salib. Ia juga secara umum
menyatakan dirinya sebagai penjelmaan dari Tuhan, sebuah klaim yang menimbulkan
polemik yang dahsyat di kalangan ummat Islam. Inilah akhirnya menjadi akar
melemahnya dukungan politik terhadap kepemimpinan al-Hakim, sehingga
pada tahun 1094 terjadi perebutan kekuasaan yang dilakukan oleh panglima militer,
al-Afzal Sahinsyah.
Pengganti
al-Hakim adalah anaknya, al-Zhahir (1021-1035), yang ketika naik tahta
berusia enam belas tahun. Ia mendapatkan izin dari Konstantin VIII agar namanya
disebut-sebut di masjid-masjid yang berada di bawah kekuasaan sang kaisar. Ia
juga mendapat izin untuk memperbaiki masjid di Konstantinopel sebagai balasan
terhadap restu al-Zhahir untuk membangun kembali gereja yang di dalamnya
terdapat Kuburan Suci.
b) Terjadinya Pemberontakan
Pengganti
al-Zhahir adalah anaknya, Ma’ad al-Muntashir (1035-1094). Seperti al-Hakim,
al-Muntashir naik tahta saat berusia sebelas tahun. Pada masa awal
kekuasaannya, ibunya, seorang budak dari Sudan, menikmati kekuasaan anaknya
dengan leluasa. Sejak saat itu, kekuasaan Fathimiyah mulai menyusut sedikit
demi sedikit. Penyebabnya karena sering terjadinya pemberontakan seperti di
Palestina dan Suku Arab di dataran tinggi Mesir yang akhirnya mampu menduduki
Tripoli dan Tunisia. Pada tahun 1071, sebagian besar wilayah Sisilia dikuasai
oleh bangsa Normandia yang daerah kekuasaannya terus meluas hingga ke pedalaman
Afrika. Hanya kawasan Semenanjung Arab yang masih tetap mengakui kekuasaan
Fathimiyah. Sejalan dengan itu, provinsi-provinsi Dinasti Fathimiyah di Afrika
memutuskan hubungan dengan pusat kekuasaan dan berkeinginan untuk memerdekakan
diri atau kembali kepada Dinasti Abbasiyah. Selain itu kericuhan dan pertikaian
terjadi di antara orang-orang Turki, suku Berber dan pasukan Sudan. Kekuasaan
negara dapat dikatakan lumpuh. Perekonomian negara juga tidak berdaya sebagai
akibat kelaparan selama tujuh tahun.
c) Persaingan Antarwazir
Setelah
al-Muntashir meninggal pada tahun 1094, kekuasaan diteruskan oleh anaknya yaitu
al-Malik al-Afdhal. Pada masa ini muncul perseteruan terus-menerus di antara
para wazir yang didukung oleh kelompok tentaranya masing-masing. Al-Afdhal lalu
menempatkan anaknya yang paling muda sebagai khalifah dengan julukan
al-Musta’li.
Sementara
itu terjadi kekacauan sekitar permasalahan suksesi di masa pemerintahan
khalifah al-Musta’ali. Nizar, putera Musta’ali yang tertua dihukum penjara
hingga meninggal, namun pengikut Nizar mengakui bahwa Nizar masih hidup. Ini
menimbulkan kekacauan dan melahirkan dua kubu yang saling bersaing, yaitu kubu
Must’aliyah dan kubu Nizariyah. Putra
al-Musta’ali bernama al-Amir yang masih berusia lima tahun, menggantikan
ayahnya sebagai penguasa di Mesir. Al-Amir akhirnya menjadi korban pembunuhan
pada tahun 1130.
Penerus
al-Amir adalah al-Hafizh. Sepeninggal al-Amir, Dinasti Fathimiyah semakin
mengalami kemunduran. Pada saat itu, timbul pertentangan paham keagamaan antara
kalangan penguasa dengan mayoritas masyarakat yang menganut Sunni. Sejumlah
kelompok kecil mengikuti imam mereka masing-masing dan mengabaikan klaim
penguasa Fathimiyah.
Ketika
al-Hafizh (1130-1149) meninggal, kekuasaannya benar-benar hanya sebatas istana
kekhalifahan. Penggantinya yaitu anaknya yang bernama al-Zhafir (1149-1154)
masih berusia sangat muda hingga kemudian kekuasaannya direbut oleh seorang
wazir dari Kurdistan ibn al-Sallar yang menyebut dirinya sebagai al-Malik
al-‘Adil.
d) Al-‘Adid sebagai Khalifah Terakhir
Hari
kedua setelah meninggalnya khalifah, dinobatkanlah anak al-Zhafir yang baru
berusia empat tahun yakni al-Faiz sebagai khalifah (1154-1160). Khalifah kecil
ini meninggal pada usia sebelas tahun, dan digantikan oleh sepupunya al-‘Adid
yang baru berusia sembilan tahun.[34]
Dialah khalifah yang keempat belas yakni khalifah yang terakhir pada Dinasti
Fathimiyah yang berkuasa selama lebih dari dua setengah abad.
Pada
masa pemerintahan al-Adid, kehidupan masyarakat sangat sulit dengan adanya
bencana kelaparan dan wabah penyakit yang sering terjadi. Akibatnya adalah
pajak yang tinggi untuk memuaskan kebutuhan khalifah dan angkatan bersenjata.
Keadaan semakin sulit dengan datangnya pasukan Perang Salib ke Mesir. Maka
khalifah al-Adid meminta bantuan kepada Nuruddin Zanki, gubernur Suriyah di
bawah kekuasaan Abbasiyah Baghdad.[35]
Nuruddin akhirnya mengutus Shalahuddin al-Ayubi yang membawa tentara ke Mesir
untuk menghalau tentara Salib. Karena keberhasilannya, dia diangkat menjadi
menteri di Mesir, di bawah Fathimiyah tentunya. Namun khalifah al-Adid amat tua
untuk memimpin dan tekanan politik makin tinggi, sementara keberhasilan
Shalahuddin al-Ayubi membuat dukungan atasnya menjadi khalifah sangat kuat.
Pada akhirnya, Shalahuddin al-Ayubi bisa menjadi khalifah dan mengakhiri
Dinasti Fathimiyah pada tahun 1171. Kepemimpin Shalahuddin al-Ayubi mengubah
corak kekuasaan yang sebelumnya Syi’ah beralih ke Sunni, sehingga disebut
Dinasti Sunni al-Ayyubiyah.
Dinasti
Ismailiyah yang didirikan oleh Ubaidillah al-Mahdi ini hanya mampu bertahan
selama lebih kurang dua setengah abad (909-1171 M).Tiga orang khalifah Dinasti
Fatimiyah lainnya yang pernah memerintah di Maroko adalah al-Qaim (322-323
H/934-946 M), al-Manshur (323-341 H/946-952 M), dan al-Muizz (341-362 H/952-975
M). Dinasti ini dapat maju antara lain karena didukung oleh militer yang kuat,
administrasi pemerintahan yang baik, ilmu pengetahuan berkembang, dan
ekonominya stabil. Krisis kepemimpinan Khalifah berikutnya setelah al-Aziz,
yakni al-Hakim (386-411 H/996-1021 M), al-Zahir (411-427 H/1021-1036 M),
Al-Mustansir (428-487 H/1036-1094 M), hingga al-Musta’li (487-495 H/1094-1101
M), tak mampu mengendalikan pemerintahan seperti yang dilakukan oleh al-Aziz.
Bahkan, krisis di antara kekuatan dalam pemerintahan Daulah Fatimiyah itu terus
berlangsung paada masa al-Hafiz (525-544 H/1131-1149 M), al-Zafir (544-549
H/1149-1154 M), al-Faiz (549-555 H/1154-1160 M), dan al-Adid (555-567
H/1160-1171 M).
Sekalipun
Fathimiyah runtuh di Mesir, namun beberapa kelompok kecil Ismailiyah masih
bertahan di Syiria, Persia dan Asia Tengah, serta mengalami perkembangan pesat
di India. Artinya, setelah runtuh, sebuah kekuatan tidak serta merta lenyap,
tetapi masih ada dan bertahan, atau setidaknya tumbuh di tempat lain.
III. PENUTUP
Selama
dua abad lebih menguasai Mesir, keberadaan Dinasti Fathimiyah telah memberikan
sumbangan peradaban yang besar. Kemajuan terbesar adalah memberikan ruang
berkembangnya ilmu pengetahuan di dunia Islam yang melahirkan banyak ilmuwan
dengan didirikannya Dār al-Hikmah dan Dār al-‘Ilmi dan
keberadaan Universitas al-Azhar sebagai pusat pengkajian ilmu pengetahuan yang
masih terasa hingga kini.
Daulah
Fatimiyah merupakan salah satu imperium besar sepanjang sejarah Islam. Pada
awalnya, daulah ini hanya berupa dinasti kecil yang melepaskan diri dari
kekuasaan daulah Abbasiyah. Mereka mampu memerintah lebih dua abad sebelum
ditaklukkan oleh dinasti Ayyubiyah dibawah kepemimpinan Salah al-Din al-Ayyubi. Dalam masa pemerintahannya, daulah
Fatimiyah sangat konsern dengan pengembangan paham Syi’ah Isma’iliyah. Untuk
kesuksesannya, mereka mewajibkan seluruh aparat di jajaran pemerintahan dan
warga masyarakat untuk menganut paham tersebut. Upaya ini cukup berhasil yang
ditandai dengan banyaknya masyarakat yang bersedia menerimanya meskipun berasal
dari non muslim.
Kemajuan
lain yang dicapai oleh Dinasti Fathimiyah adalah tertatanya sistem administrasi
pemerintahan yang membuahkan kemakmuran. Catatan sejarawan tentang
kecemerlangan Mesir saat itu dan jejak peninggalannya berupa karya-karya
seninya yang bernilai sangat tinggi, membuktikan kebenaran fakta tersebut. Dinasti Fathimiyah juga terkenal
dengan toleransi beragamanya. Para penguasa Fathimiyah tidak mencoba melakukan
tekanan agar penganut Sunni menyeberang ke Syi’ah Ismailiyah. Mereka juga
sangat menghargai kemerdekaan agama Kristen maupun Yahudi. Satu-satunya
pengecualian adalah pada masa khalifah al-Hakim.
Kemunduran Dinasti Fathimiyah bukan
hanya disebabkan oleh faktor eksternal berupa serangan dari pasukan luar,
melainkan juga karena masalah internal yang tidak dapat diselesaikan seperti
berkurangnya kesetiaan publik kepada penguasa yang dianggap berprilaku aneh, banyaknya campur tangan para
wazir akibat penguasa yang belum cukup umur, dan timbulnya perselisihan dalam
suksesi pemerintahan. Kemunduran daulah Fatimiyah dikarenakan
tidak efektifnya kekuasaan pemerintah dikarenakan pra khalifah hanya sebagai
raja boneka sebab roda pemerintah didominasi oleh kebijakan para wazir
sementara khalifah hanya hidup menikmati kekuasaannya didalam istana yang
megah.
Terlepas
klaim sebagai keturunan nabi yang masih diperdebatkan dan salah seorang
khalifah tidak mencerminkan kepemimpinan yang ideal, namun yang jelas sumbangan
dinasti ini merupakan sumbangan berharga.
DAFTAR PUSTAKA
Admin. “Heboh Harta Karun 1000 Tahun
& Misteri Kristal Dinasti Fatimiyyah Mesir”, http://atmonadi.com/?p=2418
Ahmad, Z. A. 1979. Sejarah Islam
dan Ummatnya. Jakarta: Bulan Bintang
Esposito, J.L. 2004. The Islamic
World: Abbasid Caliphate-Historians USA: Oxford University Press
Hamka. 2005. Sejarah Umat Islam. Cet.
V. Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD
Hitti, P. K. 2008. History of
Arabs; From the Earliest Times to the Present. Terjemahan oleh R. Cecep
Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi dengan judul History of Arabs. Cet.
I. Jakarta: PT Serambi Ilmu Sentosa
Lapidus, I. M. 1999. A History of
Islamic Societies. Terjemahan oleh Ghufron A. Mas’adi dengan judul Sejarah
Sosial Ummat Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
_____ 2002. A History of Islamic
Societies. New York: Cambridge University Press
Maryam, S. dkk. 2003. Sejarah
Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern Cet. I. Yogyakarta: LESFI
Mubarok, J. 2008. Sejarah
Peradaban Islam. Cet. I. Bandung: Pustaka Islamika
Sanders, P. 1994. Ritual,
Politics, and the City in Fatimid Cairo . Albany: State University of New
York Press
Sunanto, M. 2007. Sejarah Islam
Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam Cet. 3. Jakarta: Kencana
[1] Philip K. Hitti, History of
Arabs; From the Earliest Times to the Present, diterjemahkan oleh R.
Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi dengan judul History of Arabs
(Cet. I; Jakarta: PT Serambi Ilmu Sentosa, 1429 H/2008 H), h. 787
[3] Admin, “Heboh Harta Karun 1000 Tahun
& Misteri Kristal Dinasti Fatimiyyah Mesir”, http://atmonadi.com/?p=2418
[4] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam
Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam (Cet. 3, Jakarta, Kencana,
2007) h. 142
[5] Paula Sanders, Ritual, Politics,
and the City in Fatimid Cairo (Albany: State University of New York Press,
1994) h. 49
[6] John L. Esposito: The Islamic
World: Abbasid Caliphate-Historians (USA: Oxford University Press, 2004) h.
159
[7] Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam
Klasik: Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam (Cet. 3, Jakarta, Kencana,
2007) h. 141
[8] Siti Maryam dkk., Sejarah
Peradaban Islam: Dari Masa Klasik Hingga Modern (Cet. I, Yogyakarta: LESFI,
2003) h. 264
[17] Ira M. Lapidus, A History of
Islamic Societies (New York: Cambridge University Press, 2002) h. 285
[18] Philip K. Hitti, History of
Arabs; From the Earliest Times to the Present, diterjemahkan oleh R.
Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi dengan judul History of Arabs
(Cet. I; Jakarta: PT Serambi Ilmu Sentosa, 1429 H/2008 H), h. 789
[23] Ira M. Lapidus, A History of
Islamic Societies, diterjemahkan oleh Ghufron A. Mas’adi dengan judul Sejarah
Sosial Ummat Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1999) h. 536